Seni & Budaya

Kesenian Debus

DEBUS adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat jawa Barat yang terdapat didaerah pamempeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira-kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama islam ,pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama islam disebut Mama ajengan .

Nama ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajaran agama islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat. sedangkan ajaran agama islam pada waktu itu masih belum dipahami dan di mengerti maknanya .

Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajengan mengumpulkan para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan DEBUS. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.

Kesenian Dodombaan

Atraksi seni yang menggunakan tetabuhan seperangkat kendang pencak silat dengan beberapa orang pendukungnya. Satu atau dua orang melakukan ibing pencak silat, juga terdapat delapan orang yang mengusung dua buah patung domba dari kayu yang bisa ditunggangi anak-anak dan dewasa.

Kesenian ini lahir di Desa Panembong Kec. Bayongbong

Kesenian Laga Domba

Pemandangan ketangkasan laga Domba adalah suatu permainan rakyat yang diiringi oleh kesenian tradisional kendang pencak untuk meramaikan suasana. Domba Adu mempunyai badan yang kokoh, indah lincah dan gerakan-gerakan yang sangat bagus saat bertanding sehingga digenmari oleh sebagian anggota masyarakat di Kabupaten Garut secara turun-temurun. Ketangkasan Laga Domba biasanya dilaksanakan pada Bulan Juni, Agustus dan Desember di tiga tempat yaitu Ngamplang, Cangkuang dan Rancabango.

Kesenian Lais

Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama "Laisan" Yang Sehari-Hari Di Panggil Pak Lais. Lais ini Sudah Dikenal Sejak Aman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet.

Kesenian Raja Dogar

Raja Dogar atau raja domba Garut, merupakan kesenian asli Garut yang berasal dari Desa Keresek, Kecamatan Cibatu.

Raja Dogar merupakan seni pertunjukan yang mempertontonan simulasi adu domba yang digabungkan dengan unsur-unsur hiburan maupun komedi dengan diiringi gamelan atau instrumen musik khas sunda. Seni ini dinamakan Raja Dogar dengan filosofi kata Raja memiliki arti kebesaran yang tak terukur, sedangkan Dogar (domba Garut) adalah hewan ternak khas dari Kabupaten Garut yang digunakan untuk seni ketangkasan adu domba.

Raja Dogar dimainkan oleh dua orang untuk setiap domba. Satu orang berada di bagian kepala domba dan yang seorang lainnya berperan di belakang, yakni di bagian badan dan ekor domba. Sekilas, tak ada bedanya antara Raja Dogar dengan domba Garut sesungguhnya.

Kesenian Surak Ibra

Kesenian ini merupakan suatu sindiran (simbol﴿ atau semboyan tidak setuju terhadap Pemerintahan Belanda pada waktu itu yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat jajahan. Khususnya di daerah Desa Cinunuk dan umumnya daerah Kabupaten Garut.

Kesenian ini memiliki tujuan untuk memupuk motivasi masyarakat agar mempunyai pemerintahan sendiri hasil gotong royong bersama untuk mencapai tujuan cita-cita bangsa Indonesia.
Selain itu juga untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakatnya, demi menunjang keadilan dan kebijaksanaan pemerintah secara mandiri dengan penuh semangat bersama.

ALAT-ALAT YANG DIPAKAI ADALAH :
1. 2 (dua﴿ obor dari bambu.
2. Seperangkat gendang Pencak / lebih.
3. Seperangkat Dogdog / lebih.
4. Seperangkat Angklung / lebih.
5. Seperangkat Keprak / lebih.
6. Seperangkat Kentongan Bambu / lebih.
7. Hal-hal lain yang diperlukan waktunya.

BANYAK PEMAIN :

- Minimal= 40 orang
- Sedang= 60 orang - 80 orang
- Maksimal = 100 orang lebih
Dari sejak berdiri tahun 1910 sampai sekarang sudah empat generasi, bahkan sekarang pun perlu diremajakan sebab sudah banyak pemain yang sudah tua.

Previous